Anggota Polisi dan Imigrasi Terlibat Sindikat Jual Beli Ginjal Internasional

Aipda M alias D disebut turut terlibat dalam kasus perdagangan ginjal ke Kamboja yang terungkap di wilayah Tarumajaya, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Polda Metro Jaya membongkar sindikat TPPO penjualan organ ginjal yang bermarkas di Bekasi. Mereka jual organ ginjal ke Kamboja melalui jaringan internasional.

Dalam kasus ini, polisi telah menetapkan Total ada 12 orang yang ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan. Dimana 10 orang sindikat, sementara 2 orang lainnya diluar sindikat. Tim gabungan Polda Metro Jaya membongkar sindikat Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) penjualan ginjal ke Kamboja.

Anggota Polri Terlibat

Anggota Polri tersebut bersiasat menipu para tersangka penjualan ginjal dengan mengaku bisa membantu mereka dengan menghentikan kasus jika aksinya terendus aparat. Kasus ini awalnya terbongkar di Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi. Di sana, polisi mengamankan sejumlah orang yang ditampung dan akan dibawa ke Kamboja untuk transplantasi ginjal.

Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Hengki Haryadi mengatakan Aipda M mengantongi keuntungan cukup besar hingga mencapai Rp 612 juta. “Yang bersangkutan menerima uang sejumlah Rp612 juta, ini menipu pelaku-pelaku, menyatakan yang bersangkutan bisa urus agar tidak dilanjutkan kasusnya,” ujar Hengki

Dalam merekrut korban, H dibantu oleh tersangka D (30), A (42), dan E (23) melalui dua grup Facebook. Setiap ginjal korban dihargai senilai Rp 135 juta, ginjal itu kemudian dijual seharga Rp 200 juta, artinya para pelaku mendapat keuntungan Rp 65 juta per ginjal. Sejak beraksi pada 2019, para pelaku meraih omzet sebesar Rp 24,4 miliar.

Atas perbuatannya, Aipda M dikenakan Pasal 22 Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang Juncto Pasal 221 ayat (1) KUHP. “Yang bersangkutan menerima uang sejumlah Rp 612 juta ini menipu pelaku-pelaku menyatakan yang bersangkutan bisa urus agar tidak dilanjutkan kasusnya,” kata Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Hengki Haryadi dalam konferensi pers, Kamis (20/7/2023).

Peranan Para Tersangka

Menurut keterangan pendonor, penerima ginjal ini akan dijual ke sejumlah negara, seperti India, Malaysia, Singapura, hingga China, kata Hengki dalam konferensi pers di Polda Metro Jaya, Kamis (20/7/2023). Korban kemudian dijemput tersangka S (30) untuk ditempatkan di rumah penampungan yang mereka sewa di Jalan Perum Villa Mutiara Gading RT 002 RW 008 Setia Asih, Tarumajaya, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat.

Selama di rumah ini, kebutuhan korban diurus oleh M (21) dan pembuatan paspor mereka diurus oleh tersangka R (26), HS (43), dan G (31). “Aipda M menyuruh untuk buang handphone, berpindah tempat, yang pada intinya menghindari pengejaran pihak kepolisian,” ucapnya. Selain anggota Polri, komplotan pelaku perdagangan ginjal itu juga melibatkan seorang pegawai imigrasi berinisial AH.

Adapun AH disebut berperan membantu meloloskan korban pada saat proses pemeriksaan imigrasi di Bandara Ngurah Rai Bali. “Sembilan tersangka sindikat dalam negeri, satu tersangka sindikat jaringan luar negeri, dua tersangka di luar sindikat, itu dari oknum instansi, oknum Polri ada,” ungkapnya.

122 WNI jalani transplantasi di Kamboja

Adapun ke-12 tersangka yang berhasil ditangkap berinisial MA alias L, R alias R, DS alias R alias B, HA alias D, ST alias I, H alias T alias A, HS alias H, GS alias G, EP alias E, LF alias L. Kesepuluh orang sindikat ini dijerat Pasal 2 Ayat (1) dan Ayat (2) dan atau Pasal 4 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan TPPO.

Sebanyak 122 warga negara Indonesia (WNI) menjadi korban Sindikat TPPO penjualan organ ginjal. Polri menyatakan akan mendampingi para korban. “Rekrut (korban) dari media sosial Facebook kemudian ada dua akun dan dua grup komunitas yaitu ‘Donor Ginjal Indonesia‘ dan ‘Donor Ginjal Luar Negeri’, dari mulut ke mulut,” ujar Hengki.

“Yang tadi disampaikan 122 (korban) kami akan lakukan pendampingan kepada seluruh pasien tersebut,” kata Kabidokkes Polda Metro Jaya Kombes Hery Wijatmoko dalam jumpa pers di Polda Metro Jaya, Kamis (20/07). Kasus ini terungkap berkat informasi intelijen. Polisi menggerebek lokasi yang diduga menjadi penampungan para korban di Tarumanegara, Bekasi, Jawa Barat.

Setelah didalami, kasus ini melibatkan jaringan internasional di Kamboja. ”Aipda M ini tidak termasuk dalam sindikat, tetapi justru dengan terungkapnya Aipda M ini kami bisa membongkar sindikat di Indonesia ini posisinya di mana dan kami bisa tangkap di posisi mereka terakhir di Bekasi,” ucap Hengki.

Pegawai Imigrasi Terlibat

Selain anggota Polri, seorang pegawai imigrasi berisinial AH juga turut terlibat dalam kasus perdagangan ginjal tersebut. Kepala Badan Reserse dan Kriminal (Bareskrim) Polri Komisaris Jenderal Wahyu Widada pun geram dengan keterlibatan Aipda M dalam kasus ini. Dia menegaskan, tidak ada toleransi bagi anggota Polri yang terlibat dalam kasus TPPO.

Bareskrim Polri mencatat, sejauh ini Satuan Tugas TPPO sudah menerima 699 laporan perdagangan orang. Sebanyak 829 tersangka telah ditangkap dan 2.149 korban berhasil diselamatkan. Dia mengatakan sudah ada enam korban penjualan ginjal yang telah dilakukan pemeriksaan medis secara lengkap. Pemeriksaan medis itu meliputi pemeriksaan laboratorium, rontgen dada, dan CT scan abdominal.

Transplantasi dilakukan di RS pemerintahan Kamboja

Polri mendeteksi transaksi perdagangan ginjal terjadi di rumah sakit yang berada di bawah naungan pemerintah Kamboja. Hal ini diungkap oleh Kadivhubinter Mabes Polri Irjen Krishna Murti dalam konferensi pers di Polda Metro Jaya, Kamis (20/07).

Setelah itu, ketika sudah mendapat pendonor ginjal yang akan dijual, kata Hengki, para tersangka kemudian mengelabui pihak imigrasi saat hendak berangkat ke Kamboja. Di rumah sakit tersebut, Krishna menyebut terjadi transaksi perdagangan ginjal. Sampai saat ini, Polri terus berkoordinasi dengan kepolisian Kamboja.

Menurut Hengki, para tersangka memakai beberapa nama sebuah perusahaan dengan menyebut akan melakukan kegiatan family gathering ke luar negeri. “Terjadi eksekusi transaksi ginjal itu di rumah sakit pemerintah, sehingga kami harus berkomunikasi dengan otoritas lebih tinggi, kami komunikasi ketat dengan kepolisian Kamboja,” jelas Krishna.

“Pada saat keberangkatan ke luar negeri ternyata mereka palsukan rekomendasi beberapa perusahaan seolah akan family gathering ke luar negeri,” ucapnya. Ada perusahaan yang dipalsukan oleh kelompok ini seolah-olah akan family gathering termasuk stempelnya”.

By oxcel

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *