Kapal Tenggelam Akibat Topan

Dalam tragedi yang menyedihkan, sebuah kapal penumpang mengalami kecelakaan akibat topan di perairan Filipina, menyebabkan kematian 26 orang penumpang. Insiden ini merupakan contoh nyata bagaimana bencana alam dapat berdampak langsung pada keselamatan dan kehidupan manusia. Artikel ini akan mengeksplorasi kronologi kejadian, penyebab bencana, dan dampak sosial dari kapal tenggelam akibat topan di Filipina.

Kronologi Kejadian

Insiden ini terjadi pada tanggal (tanggal kejadian) ketika topan menerjang perairan Filipina. Kapal penumpang tersebut sedang berlayar menuju tujuannya ketika bertemu dengan cuaca yang ekstrem akibat dampak topan tersebut. Pihak otoritas maritim telah memberikan peringatan tentang kondisi cuaca yang buruk, namun dengan pertimbangan tertentu, kapal tersebut tetap berangkat.

Pada saat kapal berlayar, gelombang tinggi dan angin kencang menyebabkan kapal mengalami guncangan hebat. Usaha untuk mengendalikan kapal tidak berhasil, dan kapal terbalik, menyebabkan para penumpang terjatuh ke dalam air. Tim penyelamat segera dikerahkan untuk mencari korban yang hilang dan menyelamatkan para penumpang yang masih berada di atas kapal. Pejabat bencana Filipina, Neil Ferrer, mengatakan kepada radio DZRH, 40 orang telah diselamatkan dan pencarian sedang berlangsung untuk enam orang hilang.

Penjaga pantai Filipina mengabarkan pada Jumat (28/7) bahwa pencarian terus dilanjutkan untuk menemukan korban yang masih hilang. Kapal dengan kapasitas maksimal 42 orang itu awalnya berangkat dari pelabuhan di Binangonan menuju Pulau Talim di Danau Laguna, dekat Manila, pada Kamis. “Semua penumpang panik dan kapal bergerak ke satu sisi, yang menyebabkan kapal terbalik di perairan Binangonan,” kata PCG, dikutip dari Channel News Asia.

Saat berlayar, angin kencang menerjang kapal tersebut hingga membuat penumpang panik. Mereka pindah ke satu sisi kapal dan menyebabkan cadik kayu atau jongkong itu terbalik, demikian keterangan penjaga pantai. Kapal itu berada sekitar 45m dari daratan ketika diterpa angin kencang. AFP melaporkan orang-orang berdiri di sekitar pantai menyaksikan dengan ngeri ketika tim penyelamat berupaya mencari korban di air keruh. Kapal itu berada sekitar 45m dari daratan ketika diterpa angin kencang.

Menurut polisi, kapal tenggelam hanya 46 meter dari pantai, setelah meninggalkan dermaga di Kota Binangonan menuju Pulau Talim di dekatnya. Kapal miring dan cadiknya pecah setelah orang-orang bergegas bergerak ke salah satu sisi kapal di tengah angin kencang. Tidak segera jelas berapa banyak orang di dalamnya, tetapi pejabat bencana Neil Ferrer mengatakan kepada radio DZRH bahwa 40 orang telah diselamatkan dan pencarian sedang berlangsung untuk enam orang hilang. Hingga kini, tiga orang tercatat masih hilang berdasarkan angka resmi yang dirilis pada Kamis.

Penjaga pantai dan polisi saat ini tengah menyelidiki penyebab kecelakaan tersebut, yang terjadi beberapa jam setelah Topan Doksuri menerjang utara Filipina. “Kapal itu berada sekitar 45m dari daratan ketika diterpa angin kencang, menyebabkan semua penumpang panik dan bergerak ke satu sisi. Pada akhirnya menyebabkan kapal terbalik di perairan Binangonan,” kata PCG, seperti dikutip dari Channel News Asia, Jumat 28 Juli 2023.

Topan Doksuri Putus Aliran listrik Rumah di Taiwan

Sementara Topan Doksuri mendapatkan kembali kekuatan topan super pada Kamis 27 Juli dalam pendekatan terakhirnya ke wilayah tenggara Tiongkok. Topan itu sebelumnya telah menghantam Taiwan dan Filipina utara dengan hujan dan angin kencang. Insiden tenggelamnya feri pada Kamis menjadikan korban tewas akibat cuaca badai selama seminggu di pulau Luzon menjadi lebih dari 30 orang dan ribuan lainnya mengungsi.

Pada pukul 5.00 sore waktu Beijing, angin di sekitar pusat badai telah mencapai kecepatan hingga 187 km/jam, menempatkan Doksuri kembali ke puncak sistem kategorisasi badai tropis Tiongkok setelah sebelumnya melemah. Topan Doksuri sejauh ini telah menumbangkan pohon dan memutus aliran listrik ke ratusan ribu rumah di Taiwan selatan, mendorong pihak berwenang untuk menutup bisnis pada hari kedua dan memperingatkan angin ekstrem saat badai tersebut melakukan dorongan terakhirnya ke China tenggara pada Jumat dengan kecepatan angin maksimum 118 mil per jam.

Sedangkan, pusat bisnis dan sekolah ditutup di selatan Taiwan di tengah peringatan tanah longsor dan banjir. Semua penerbangan domestik dan jalur feri ditangguhkan, sementara lebih dari 100 penerbangan internasional dibatalkan atau ditunda. Layanan kereta api antara Taiwan selatan dan timur dihentikan. Lebih dari 5.700 orang dievakuasi sebagai tindakan pencegahan, sebagian besar di pegunungan selatan dan timur Taiwan, di mana lebih dari 0,7m curah hujan tercatat di beberapa daerah. Badai memutus aliran listrik ke lebih dari 49.000 rumah tangga di seluruh Taiwan, meskipun pasokan telah pulih kembali.

Topan Doksuri Hantam Filipina

Angin kencang ini datang setelah topan Doksuri menghantam Filipina pada Rabu (26/7/2023). Topan ini menumbangkan pohon dan mematikan listrik di pulau Luzon, Filipina. Penyebab bencana ini dapat diatribusikan langsung pada topan yang melanda wilayah tersebut. Topan adalah badai tropis yang membawa angin kencang dan curah hujan yang tinggi. Topan sering kali memicu gelombang tinggi dan kondisi cuaca ekstrem di laut, sehingga kapal-kapal di perairan terdampak dengan keras.

Penyelenggara kapal harus lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan untuk berlayar saat cuaca buruk dan ketika peringatan bencana telah dikeluarkan. “Topan Doksuri perlahan bergerak menjauh dari Pulau Dalupiri, dari ujung utara pulau utama Luzon, dan menuju perairan terbuka,” kata badan cuaca negara bagian Luzon, Filipina dalam pembaruan Rabu (26/7/2023). Filipina, negara kepulauan dengan lebih dari 7.000 pulau ini, selama ini punya catatan keselamatan maritim yang buruk.

Dampak Sosial dan Upaya Penanggulangan

Tragedi kapal tenggelam ini telah menimbulkan dampak sosial yang mendalam bagi keluarga korban dan masyarakat setempat. Kehilangan nyawa orang-orang terkasih menyebabkan duka yang mendalam dan meninggalkan luka yang sulit sembuh. Pemerintah setempat harus hadir dalam memberikan dukungan dan bantuan bagi keluarga korban yang berduka. Selain itu, upaya penanggulangan dan penyelamatan harus ditingkatkan.

Lebih banyak peralatan dan personel yang terlatih harus siap sedia untuk merespons bencana alam seperti topan ini. Peningkatan kesadaran tentang keselamatan maritim dan pentingnya mengikuti peringatan bencana juga harus diberikan kepada operator kapal dan penumpang. Kapal tenggelam akibat topan di Filipina yang menyebabkan kematian 26 orang penumpang merupakan sebuah tragedi yang harus mengingatkan kita akan pentingnya keselamatan maritim dan tanggung jawab kita sebagai manusia untuk memahami dan menghormati kekuatan alam.

Upaya untuk memperkuat sistem peringatan dini, peningkatan kesiapsiagaan dan kesadaran akan cuaca ekstrem akan membantu mencegah kejadian serupa di masa depan. Semoga peristiwa ini juga menjadi pengingat bagi semua pihak tentang pentingnya keselamatan dalam melakukan perjalanan laut, terutama saat menghadapi kondisi cuaca buruk atau bencana alam yang mengancam.

By oxcel

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *